Pencatatan Saham Perdana Saham Perdana Anabatic Menguat 14%

Jakarta -PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) hari ini mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sahamnya naik 14% saat pembukaan.

Perusahaan penyedia tekhnologi informasi menjadi emiten ke-10 yang tercatat di BEI tahun ini. Pada pembukaan, sahamnya naik ke Rp 800 per lembar (+14%) dari harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Rp 700 per lembar.

Jumlah saham yang dilepas perusahaan berkode ATIC ini adalah sebesar 375 juta lembar, atau 20% dari modal yang disetor.

Abatic mencatatkan saham tertinggi di Rp 825, dan harga terendah pada Rp 740. Sementara hingga menit ke-10, saham ATIC bergerak di kisaran Rp 780-810 selembar.

Presiden Direktur Anabatic Handodjo Supcipto mengatakan, pencatatan perusahaannya ini menjadi loncatan awal perusahaan menjadi pemain IT di kancah regional.

“Dari 7 orang sekarang lebih dari 1.500 karyawan. Kalau lihat pasar di Indonesia market cap masih sangat besar. Anabatic bisa jadi perusahaan tekhnologi kebanggan luar biasa. Saya kira transformasi menjadi perusahaan terbuka ini menjadi loncatan baru,” kata Handodjo di BEI, Rabu (8/7/2015).

Perusahaan yang berdiri pada tahun 2002 tersebut sudah meluaskan usahanya ke mancanegara seperti Singapura, Malaysia, India, dan Filipina. Mayoritas saham Anabatic saat ini dimiliki oleh PT Artha Investama Jaya sebesar 50,26% dan memiliki tujuh anak perusahaan. Total asset Anabatic mencapai Rp 1,974 triliun.

Seiring dengan kondisi bisnis teknologi informasi, kinerja perusahaan juga mengalami pertumbuhan. Selain asset perusahaan yang meningkat, penjualan juga naik ke Rp 2,57 triliun pada 2014, demikian juga laba komprehensif yang dicatat pada akhir 2014 sebesar Rp 81,35 triliun.

Dari hasil IPO, Abatic mendapatkan dana segar Rp 260 miliar. “Porsinya 50% untuk pengembangan market dan produk, 30% untuk perbaiki utang di bank, 20% persen modal kerja,” kata Handodjo

Advertisements

Pemprov DKI Akan Bangun Ruang Belajar Smart City Rp 30 M di Balai Kota

Jakarta

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan (Diskominfmas) DKI, Ii Kurnia mengatakan Pemprov DKI akan membangun ruang pembelajaran sistem Smart City di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ruangan tersebut akan digunakan untuk pemerintah daerah lain yang ingin mempelajari sistem Smart City lewat studi banding.

“Sebagai daerah yang diharapkan jadi role model bagi daerah lain, DKI sedang siapkan ruang belajar sistem Smart City di Balai Kota agar dapat ditiru daerah lain di Indonesia,” ujar Ii di Balai Kota, Kamis (23/7/2015).

Ii menjelaskan, ruang belajar sistem Smart City ini merupakan ide dari Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Di Balai Kota, rencananya ruang belajar ini terletak di lantai 3 Gedung Blok A.

Selain sebagai studi banding, ruangan tersebut juga akan difungsikan sebagai pusat kontrol dan kendali sistem Smart City. “Jadi semacam show room gitu. Isinya nanti macam-macam. Ada layar monitor, CCTV, server dan juga aplikasi sistem Smart City,” jelasnya.

Hingga saat ini, Ii menuturkan ruang belajar sistem Smart City masih dalam tahap perencanaan dan baru mulai dilelang. Sehingga, pembangunan ruangan tersebut belum dapat diwujudkan dalam waktu dekat.

“Artinya belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Sekarang baru mulai dilelang,” ungkapnya.

Adapun, anggaran yang digelontorkan Pemprov DKI untuk pembangunan ruang belajar ini tidak sedikit. Untuk membangun ruangan beserta perangkat tekhnologi guna memantau sistem Smart City ini, diprediksi memakan biaya sekitar Rp 30 miliar.

“Biayanya bisa mencapai Rp 30 miliar, karena yang mahal itu server-servernya,” terang Ii.

Ahok Bangun Ruang Belajar Smart City Senilai Rp 30 M

Jakarta – Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan (Diskominfmas) DKI, Ii Kurnia mengatakan Pemprov DKI akan membangun ruang pembelajaran sistem Smart City di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ruangan tersebut akan digunakan untuk pemerintah daerah lain yang ingin mempelajari sistem Smart City lewat studi banding.

“Sebagai daerah yang diharapkan jadi role model bagi daerah lain, DKI sedang siapkan ruang belajar sistem Smart City di Balai Kota agar dapat ditiru daerah lain di Indonesia,” ujar Ii di Balai Kota, Kamis (23/7/2015).

Ii menjelaskan, ruang belajar sistem Smart City ini merupakan ide dari Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok). Di Balai Kota, rencananya ruang belajar ini terletak di lantai 3 Gedung Blok A.

Selain sebagai studi banding, ruangan tersebut juga akan difungsikan sebagai pusat kontrol dan kendali sistem Smart City. “Jadi semacam show room gitu. Isinya nanti macam-macam. Ada layar monitor, CCTV, server dan juga aplikasi sistem Smart City,” jelasnya.

Hingga saat ini, Ii menuturkan ruang belajar sistem Smart City masih dalam tahap perencanaan dan baru mulai dilelang. Sehingga, pembangunan ruangan tersebut belum dapat diwujudkan dalam waktu dekat.

“Artinya belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Sekarang baru mulai dilelang,” ungkapnya.

Adapun, anggaran yang digelontorkan Pemprov DKI untuk pembangunan ruang belajar ini tidak sedikit. Untuk membangun ruangan beserta perangkat tekhnologi guna memantau sistem Smart City ini, diprediksi memakan biaya sekitar Rp 30 miliar.

“Biayanya bisa mencapai Rp 30 miliar, karena yang mahal itu server-servernya,” terang Ii.

Tawarkan Road Map, Thailand Yakin 2020 Asean Bebas Asap

Jakarta – Thailand menawarkan Road Map penanganan asap akibat kebakaran hutan pada pertemuan lima menteri Lingkungan Hidup Asean di Hotel Sheraton, Jakarta. Dengan road map tersebut Thailand yakin Asean akan bebas asap pada tahun 2020.

“Dalam pembahasan, Thailand menawarkan roap map upaya untuk membuat Asean free asap pada tahun 2020,” ujar Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Selasa (28/7/2015).

Road map tersebut merupakan hasil pengalaman dan hal-hal yang dipelajari oleh Thailand dalam menangani kebakaran hutan. Draft Road map tersebut akan diberikan pihak Thailand pada tahun depan.

“Road map yang akan diberikan merupakan pengalaman, hasil pembelajaran dan pengalaman para pekerja dan tekhnologi. Semua akan dipresentasikan pada tahun depan,” ujar Menteri Siti.

Walau begitu, Menteri Lingkungan Hidup Singapura berkeinginan penyelesaian asap di kawasan Asean dapat diselesaikan saat ini juga. Untuk itu, pihaknya berjanji akan bekerja sama dan memberikan bantuan untuk Indonesia.

“Kami maunya tahun ini juga kita bisa menyelesaikan permasalahan asap. Nantinya kita akan bersama-sama menanganinya,” tutup Menteri LHK Singapura Vivian Balakrishnan.

Bicara Kemerdekaan RI, Pangdam Jaya Ingatkan Semangat Gotong Royong

Jakarta – Pangdam Jaya Mayjen Agus Sutomo memaknai hari Kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah perjuangan dengan pengorbanan besar. Mayjen Agus juga mengingatkan semangat gotong royong yang harus tetap dimiliki.

“Kemerdekaan Indonesia bukan pemberian dari negara manapun, bukan hadiah, tapi adalah sebuah perjuangan yang penuh dengan pengorbanan baik harta benda maupun nyawa dan ribuan jumlahnya. Pendahulu kita dulu dengan berani gagah perkasa mempertaruhkan nyawanya hanya untuk sebuah kehormatan,” kata Agus, Rabu (5/8/2015).

Agus mengajak para pemuda Indonesia melihat perjuangan besar saat memperjuangkan kemerdekaan. “Sebentar lagi kita mau ulang tahun ke 70 berarti 30 tahun lagi tinggal kita mari kita maknai bahwa gotong royong, bahu membahu untuk mewujudkan sebuah cita-cita luhur dan mempertahankan sebuah kehormtan ternyata ada hasilnya,” sambungnya.

“Maka imbauan kita maknanya para pemuda mari kita melihat ke belakang sejarah dulu. Sejarah perjuangan para pendahulu dulu dengan mengorbankan segala yang dimiliki termasuk nyawa pun. Bersatu padu mengusir penjajah. Maka dengan segala kemajuan ini tekhnologi alat persenjataan SDM yang sudah kita miliki SDA mari justru aset yang paling utama yaitu gotong royong jangan dibuang,” imbuh Agus.

Hadapi El Nino, Ikatan Ahli Bencana Ajak Masyarakat Tampung Air Hujan

Jakarta – Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengatakan El Nino yang menyerang Indonesia akan sama dengan El Nino pada tahun 1997. Untuk mengatasi hal ini, mereka menyarankan agar masyarakat mulai menampung air hujan.

Menurut Sekjen IABI Lili Kurniawan, suhu muka laut di Indonesia saat ini lebih dari 1,9 derajat celcius, sama dengan El Nino 1997. Walaupun masih berpotensi hujan, penyelamatan hutan dan gas di Indonesia yang kurang baik dapat berdampak serius.

“Jadinya kondisi sungai kering dan danau surut,” terang Lili sebelum membuka konferensi Pers di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2015). Pada acara itu hadir pula Agus Maryono Ketua Kelompok Kerja Banjir dan Kekeringan IABI.

Dikarenakan hal tersebut, Agus Maryono sebagai Ketua Kelompok Kerja Banjir dan Kekeringan IABI mengajak masyarakat Indonesia untuk menampung air hujan. Di mana dengan menampung air hujan, bisa menanggulangi kekeringan panjang.

“Kita selama ini belum punya budaya memanen dan menampung air hujan. Kalau kita sudah mampu, pada Oktober nanti dengan menampung air hujan Insya Allah kekeringan bisa diatasi,” ujar Agus secara terpisah.

Agus mengatakan, dirinya sudah melakukan penelitian terhadap air hujan. Dan terbukti jika air hujan dikelola dengan baik bisa digunaka untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air hujan dapat ditampung di toren menggunakan alat rain filter dan bisa digunakan air sehari-hari. Jika ingin diminum disarankan diperiksakan ke Depkes dulu dengan cara dimasak,” jelas Agus.

Selain dengan menampung air hujan, hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kekeringan ialah dengan membuat sumur resapan. Di mana nantinya segala air yang jatuh ke tanah bisa diresap di dalam sumur tersebut.

“Langkah lain bisa dengan sumur resapan ditambah jumlahnya dan meresap ke dalam tanah untuk kebutuhan keluarga untuk menambah air tanah. Di samping itu mengaktifan kembali telaga atau danau di setiap desa itu juga bagus untuk memelihara lingkungan,” tutup Agus.

Berikut beberapa upaya yang diusulkan IABI harus dilakukan dalam menghadapi situasi kekeringan:

1. Pemerintah pusat dan daerah dapat bekerjasama melakukan identifikasi kondisi saat ini, memprediksi ketersediaan air hingga bulan November, dan menginventarisasi kekuatan sumberdaya yang ada. Tekhnologi canggih yang tepat juga perlu diaplikasikan untuk mengatasi masalah kekeringan.

2. Pemerintah pusat dan daerah untuk bersama-sama memberikan informasi dan prediksi jauh-jauh sebelumnya terkait tingkat kekeringan yang akan terjadi, mensosialisasikan pola tanam yang berbasis pada tekhnologi keikliman dan menganggarkan penciptaan cadangan air baik melalui penyelamatan hutan dan DAS maupun upaya pemanenan air hujan.

3. Masyarakat bersama pemerintah dan kelompok-kelompok peduli perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana melakukan kampanye pengelolaan air yang bijaksana dan berkeadilan. Dan melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk mempraktekkan pertanian dengan pola tanam berbasis tekhnologi keikliman.

4. Analisis perkiraan El Nino tahun 20015 perlu ditindaklanjuti dengan melakukan monitoring dan evaluasi secara intensif agar keterandalannya dapat efektif di beberapa wilayah ZOM/ zone musim.

Banyak Sawah Kekeringan, Pemerintah Bikin Hujan Buatan

Jakarta -Jumlah sawah yang mengalami kekeringan makin meluas akibat musim kemarau dan El Nino, tak ingin menggangu produksi pangan terutama padi, Kementerian Pertanian (Kementan) membuat hujan buatan. Langkah ini dilakukan untuk mengisi waduk, embung, dan sumur di daerah sentra pertanian padi di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dalam pelaksanaan hujan buatan yang akan dimulai hari ini hingga 90 hari ke depan, Kementan bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Tekhnologi (BPPT), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“El Nino saat ini moderat menuju kuat dan diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun 2016. Dan El Nino 2015 diperkirakan lebih kuat dibanding fenomena tahun 1997,” kata Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (25/8/2015).

Akibat El Nino, musim hujan di wilayah Selatan dan Timur Indonesia seperti NTT, Jawa, NTB, Lampung, Bali, dan Sulawesi Selatan mengalami kemunduran. Kondisi ini membuat wilayah-wilayah tersebut mengalami defisit air hingga 20 miliar meter kubik.

Hingga saat ini saja, dari 200.000 hektar sawah yang terpapar kekeringan, Kementan mencatat sudah 30.000 hektar sawah mengalami gagal panen atau puso atau meningkat 70% dari posisi pada pertengahan Agustus.

Heru mengungkapkan, tahap awal, pelaksanaan rekayasa hujan buatan akan dilakukan mulai hari ini yang diprioritaskan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

“Pelaksanaan hujan buatan pada bulan Agustus di Pulau Jawa bukan hal mudah karena potensi pertumbuhan awan sangat sedikit. Jika radar mendeteksi awan potensial, armada pesawat penyemai awan akan segera diterbangkan menuju lokasi target awan agar potensi hujan buatan bisa optimal,” terang Heru.